ForMyGluco
BlogGlosarium← Kembali ke beranda

Porsi dan label

Apa itu indeks glikemik, apakah berguna?

· 2 mnt

Lima mangkuk keramik berjajar dari kecil ke besar di depan latar polos hijau sage; urutan ukurannya melintasi bingkai dari ujung ke ujung.

Indeks glikemik mengurutkan seberapa cepat makanan berkarbohidrat membentuk kenaikan sesudah dimakan. Porsi yang membawa jumlah karbohidrat tetap dibandingkan dengan sebuah makanan rujukan. Sisi berguna dan batasnya di tempat yang sama: kondisi laboratorium tidak mirip makan sebenarnya.

Gagasannya sederhana. Dua makanan yang membawa jumlah karbohidrat yang sama tidak maju dengan kecepatan yang sama sepanjang pencernaan. Roti putih terpecah cepat di mulut dan di usus; polong-polongan berkulit menempuh jalan yang sama jauh lebih berat. Indeks glikemik adalah percobaan mengubah selisih kecepatan ini menjadi satu urutan.

Pengukuran dimulai di laboratorium. Sukarelawan memakan satu porsi yang jumlah karbohidrat tercernanya dijaga tetap; selama dua jam berikutnya sampel darah terkumpul dalam selang tertentu. Orang yang sama di hari lain menyantap makanan rujukan, paling sering glukosa murni atau roti putih. Saat luas di bawah dua kurva saling dibandingkan, keluar sebuah nomor urut untuk makanan itu. Urutan terbagi tiga kelompok: rendah, sedang, tinggi.

Nomor urut sendirian tidak menceritakan piring. Beban glikemik menambahkan porsi ke urutan yang sama; ia memperhitungkan indeks makanan bersama jumlah karbohidrat dalam porsi itu. Semangka contoh yang baik. Ia berdiri di atas dalam urutan, tapi jumlah karbohidrat yang dibawa sepotong semangka tinggal kecil. Indeksnya tinggi, bebannya rendah.

KriteriaIndeks glikemikBeban glikemik
Yang diceritakannyaKecepatan kenaikanKecepatan dan jumlah bersama-sama
Yang dilihatnyaJenis dan susunan makananJenis dan porsi di piring
Memasukkan porsi?TidakYa
Contoh semangkaDi atas dalam urutanKecil dalam sepotong

Yang menggoyang urutan bermula di kompor, di lemari, dan di piring. Makanan yang sama menjauh dari wujudnya di meja pengukuran seiring ia diolah.

  • Memasak: pasta yang lama dimasak dan yang tinggal kenyal tidak berdiri di urutan yang sama.
  • Kematangan: pisang yang kehijauan dan pisang berbintik berlaku berbeda.
  • Penggilingan: serealia yang sama berlaku seperti makanan lain begitu menjadi tepung halus.
  • Yang di sampingnya: karbohidrat yang sama maju lebih lambat saat datang bersama lemak dan protein.
  • Selisih perorangan: roti yang sama tidak memberi jawaban yang sama dari hari ke hari bahkan pada orang yang sama.

Butir terakhir ini sesuatu yang terukur. Dalam studi berulang dengan lebih dari enam puluh sukarelawan sehat, nilai indeks roti putih yang sama bergoyang sekitar seperlima dari hari ke hari pada orang yang sama; selisih antarorang lebih lebar lagi. Artinya yang tampak seperti satu angka di daftar sebenarnya sebuah rentang yang lebar.

Meski begitu ukuran ini punya kegunaan yang nyata. Saat membandingkan dua makanan dari keluarga yang sama, ia memberi gambaran kasar: serealia berbutir utuh dan produk dari tepung serealia yang sama berpisah pada ukuran ini. Sedangkan selisih antara gandum utuh yang sudah jadi tepung dan tepung putih tidak sebesar yang disangka. Yang membedakan bukan label gandum utuh, melainkan digiling atau tidaknya butir. Panduan klinis terkini menghitung indeks hanya sebagai satu wajah mutu karbohidrat, bukan alat keputusan tunggal. Ada pula perincian yang digarisbawahi telaah: makanan di ujung bawah urutan kebanyakan yang seratnya tinggi. Karena itu sulit memisahkan berapa bagian selisih milik indeks dan berapa milik serat. Ada tulisan tersendiri yang menangani pembagian kerja antara jumlah dan jenis.

Sumber

  1. Matthan NR, Ausman LM, Meng H, Tighiouart H, Lichtenstein AH. Estimating the reliability of glycemic index values and potential sources of methodological and biological variability. Am J Clin Nutr. 2016;104(4):1004-1013. doi:10.3945/ajcn.116.137208
  2. Vega-Lopez S, Venn BJ, Slavin JL. Relevance of the glycemic index and glycemic load for body weight, diabetes, and cardiovascular disease. Nutrients. 2018;10(10):1361. doi:10.3390/nu10101361
  3. Atkinson FS, Brand-Miller JC, Foster-Powell K, Buyken AE, Goletzke J. International tables of glycemic index and glycemic load values 2021: a systematic review. Am J Clin Nutr. 2021;114(5):1625-1632. doi:10.1093/ajcn/nqab233
  4. Cai M, Dou B, Pugh JE, Lett AM, Frost GS. The impact of starchy food structure on postprandial glycemic response and appetite: a systematic review with meta-analysis of randomized crossover trials. Am J Clin Nutr. 2021;114(2):472-487. doi:10.1093/ajcn/nqab098
  5. Gerontiti E, Shalit A, Stefanaki K, et al. The role of low glycemic index and load diets in medical nutrition therapy for type 2 diabetes: an update. Hormones (Athens). 2024;23(4):655-665. doi:10.1007/s42000-024-00566-7
  6. American Diabetes Association Professional Practice Committee. 5. Facilitating Positive Health Behaviors and Well-being to Improve Health Outcomes: Standards of Care in Diabetes-2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S89-S131. doi:10.2337/dc26-S005

Tulisan ini hanya untuk informasi; ia bukan diagnosis, bukan pengobatan, bukan pula anjuran dosis. Keputusan tentang pengobatanmu selalu kamu ambil bersama doktermu.

Mulailah memegang buku catatanmu sendiri

ForMyGluco menyimpan hasil ukurmu, obatmu, dan jadwal kontrolmu di satu tempat, lalu membuat laporan PDF sekali sentuh yang bisa kamu bawa ke doktermu.

Lihat di App Store →

Seluruh blog