ForMyGluco
BlogGlosarium← Kembali ke beranda

Mencatat dan membaca

Apa gunanya menulis buku catatan gula darah?

· 2 mnt

Mulai dari sini · 12 dari 12

Buku catatan tebal terbuka di tepi jendela; halamannya berisi baris-baris tulisan tangan yang tidak terbaca, sebuah pulpen tergeletak di atasnya.

Buku pemantauan menyimpan bukan angkanya saja, melainkan keadaan saat angka itu keluar; justru konteks inilah yang berguna. Angka yang berdiri sendirian nyaris tidak bercerita apa-apa padamu. Tiga puluh baris di jam yang sama memperlihatkan pola jam demi jam. Inilah yang disebut pengukuran terstruktur.

Ingatan tidak menyimpan angka, ia menyimpan perasaan. Pagi yang buruk kamu ingat berminggu-minggu; lima belas pagi yang tenang tidak meninggalkan jejak sama sekali. Kerja pertama buku catatan adalah meluruskan kemiringan ini; hari baik dan hari buruk ditulisnya dengan lebar baris yang sama. Kerja keduanya membawa konteks: angka tanpa jam di sampingnya kehilangan pertanyaan yang dijawabnya.

Yang membuat buku catatan terbaca adalah kolom-kolomnya.

Kolom di barisYang dibuatnya jadi jelas
JamAngkanya milik perut kosong atau sesudah makan
Jarak dari makanKenaikan datang dari makanan atau dari harinya sendiri
Besarnya makanApakah sarapan yang sama menghasilkan baris yang sama tiap kali
Obat, gerak, tidurApakah polanya berimpit dengan salah satunya
Catatan satu barisSakit atau perjalanan, sekali saja atau bukan

Studi yang dikenal dengan nama STeP mengukur persis hal ini pada orang diabetes tipe 2 yang tidak memakai insulin. Sebagian peserta menuliskan pengukuran tiga hari menjelang kontrol pada selembar kertas; sebagian lain meneruskan pengukurannya seperti biasa. Pada kelompok yang meletakkan kertas di meja, dokter lebih sering mengubah pengobatan; di ujung satu tahun, penurunan HbA1c juga lebih besar di kelompok ini. Kertas itu bukan pengobatan; ia yang membuka jalan bagi keputusan.

Ada juga temuan dari arah sebaliknya. Telaah Cochrane menemukan efek pengukuran di rumah terhadap HbA1c kecil pada enam bulan di kelompok yang sama; pada satu tahun malah tidak bermakna. Keduanya tidak bertentangan: mengukur saja tidak mengubah apa-apa, pengukuran yang dibaca dan menjadi keputusanlah yang mengubah. Buku catatan adalah tempat perubahan itu terjadi.

Kebiasaan berikut membuat buku yang sama jadi tidak terbaca.

  • Menulis hanya angka tinggi: buku berubah menjadi daftar keluhan.
  • Melewatkan jam: pagi dan sore bercampur di kolom yang sama.
  • Menggeser jam pengukuran tiap hari: baris-baris jadi tidak terbandingkan.
  • Tidak menandai hari yang tidak biasa: minggu saat kamu flu tampak seperti kecenderungan menetap.

Kontrol berlangsung singkat, dan tepat di sanalah ingatan paling lemah. Kerja terakhir buku catatan: mengeluarkan percakapan dari ringkasan dan meletakkan teks nyata di atas meja.

Buku kertas atau aplikasi?
Keduanya mengerjakan hal yang sama: menderetkan baris berdampingan. Kertas tidak minta persiapan; aplikasi merapikan kolom dengan sendirinya. Mulailah dengan yang ada di tanganmu; buku terburuk adalah buku yang tidak pernah dimulai.
Apakah harus mengukur tiap hari?
Profil yang jarang tapi lengkap bercerita lebih banyak daripada pengukuran satu-satu tiap hari. Kertas dalam studi STeP memusat pada jendela pendek menjelang kontrol. Pengukuran yang berserakan merekam derau.
Haruskah aku menulis juga makananku?
Tulis bukan nama makanannya, melainkan jam dan besarnya. Nama sendirian tidak membawa informasi; jam dan jumlah membawanya. Makin panjang barisnya, makin cepat buku ditinggalkan.
Apa guna buku-buku lama yang menumpuk?
Perbandingan hanya mungkin dengan yang lama; karena itu jangan buang halamannya. Melihat minggu yang sama semusim sebelumnya bercerita lebih banyak daripada membaca satu hari.

Sumber

  1. Polonsky WH, Fisher L, Schikman CH, Hinnen DA, Parkin CG, Jelsovsky Z, Petersen B, Schweitzer M, Wagner RS. Structured self-monitoring of blood glucose significantly reduces A1C levels in poorly controlled, noninsulin-treated type 2 diabetes: results from the Structured Testing Program study. Diabetes Care. 2011;34(2):262-267. doi:10.2337/dc10-1732
  2. Polonsky WH, Fisher L, Schikman CH, Hinnen DA, Parkin CG, Jelsovsky Z, Axel-Schweitzer M, Petersen B, Wagner RS. A structured self-monitoring of blood glucose approach in type 2 diabetes encourages more frequent, intensive, and effective physician interventions: results from the STeP study. Diabetes Technology and Therapeutics. 2011;13(8):797-802. doi:10.1089/dia.2011.0073
  3. Malanda UL, Welschen LMC, Riphagen II, Dekker JM, Nijpels G, Bot SDM. Self-monitoring of blood glucose in patients with type 2 diabetes mellitus who are not using insulin. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2012;(1):CD005060. doi:10.1002/14651858.CD005060.pub3

Tulisan ini hanya untuk informasi; ia bukan diagnosis, bukan pengobatan, bukan pula anjuran dosis. Keputusan tentang pengobatanmu selalu kamu ambil bersama doktermu.

Mulailah memegang buku catatanmu sendiri

ForMyGluco menyimpan hasil ukurmu, obatmu, dan jadwal kontrolmu di satu tempat, lalu membuat laporan PDF sekali sentuh yang bisa kamu bawa ke doktermu.

Lihat di App Store →

Seluruh blog